Senin, 11 April 2022

Makhluk Manusia: Ilmu Antropologi

https://www.google.com=antropologi-bab-2-makhluk-manusia

1. Salah Paham Mengenai Konsep Ras

  1. Manusia memiliki ciri ciri fisik yang tampak seprti warna kulit, bentuk rambut, bentuk bagian wajah yang menimbulkan pengertian “ras” atau golongan secara fisik.
  2. Dalam sejarah, terjadi salah paham dalam konsepsi ras dimana ciri fisik dikaitkan dengan tinggi rendah secara rohani, mislnya: ras kulit putih dianggap lebih kuat dan lebih pintar, atau lebih maju.
  3. A. de Gobineau. Essai sur I’Inegalite des Races Humanes (1853-1855): Ras Arya paling unggul di dunia.
  4. Akibatnya terjadi penjajahan bangsa Eropa (ras kulit putih) terhadap bangsa-bangsa di luar Eropa.
  5. Perbudakan dimana ras kulit hitam dianggap lebih rendah menjadi abdi bagi kaum kulip putih.
  6. Jerman: NAZI-Nasional Sosialis oleh Adolf Hitler (Jerman merupakan keturunan Arya).

 2. Metode Mengkelaskan Aneka Ras Manusia

  1. Klasifikasi berdasarkan morfologis tehadap ciri ciri Fenotype, yaitu: ciri kualitatif seperti warna kulit, bentuk rambut, dan lain-lain. Ciri kuantitatif seperti berat badan, ukuran badan, index chepabilicus dibantu dengan Antropometri.
  2. Klasifikasi berdsarkan Filogenetic: tidak hanya mendasarkan persamaan atau perbedaan ras, tetapi juga aspek genotype yang menghubungkan asal usul antar ras ras dan percabangannya; mendasarkan pada fakor genetic yang tidak mudah berubah oleh lingkungan.
  3. Contoh Klasifiasi Filogenetic : pernah diamati bahwa masyarakat Sunda mayoritas bergolongan darah O, di Tokyo pernah di test dari 30 ribu orang 38% golonga darah A dan 30% golongan darah B. serta pernah juga diteliti bahwa manusia dengan golongan darah A,B,C mempunyai gen MN yang memicu kemampuan mencium Feniltyo Carbomide.

 3. Salah Satu Klasifikasi Ras Manusia 

  •  Beberapa klasifikasi dari para sarjana: 
  1. Carolus J. Linneaus (1725): klasifikasi berdasarkan warna kulit sebagai ciri penting.
  2. J. F. Blumenbach (1755): klasifikasi berdasarkan kombinasi ciri morfologi dengan geografis.
  3. J. Denicker (1889) : klasifikasi berdasarkan warna dan bentuk rambut.
  4. E. von Eickstedt & E. A. Hooton: memperkenalkan metode klasifikasi berdasarkan filogenetic. 
  • Klasifikasi yang terkenal dari A. L. Kroeber terhadap ras dan hubungannya satu sama lain: 

1. AUSTRALOID, Penduduk asli Australia. 

2. MONGOLOID

  1. Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, Asia Timur).
  2. Malayan Mongoloid (Asli Tenggara, Kep. Indonesia, Malaysia, Filipina dan Penduduk asli Taiwan).
  3. American Mongoloid (penduduk asli Benua Amerika Utara dan Selatan dari orang eskimo di Amerika Utara sampai penduduk Terra del Fuego di Amerika Selatan). 

 3. CAUCASOID

  1. Nordic (Eropa Utara sekitar Laut Baltik).
  2. Alpine (Eropa Tengah dan Timur).
  3. Mediterranean (Penduduk sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran). Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka).

4. NEGROID

  1. African Negroid (Benua Afrika).
  2. Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina).
  3. Mellanesian (Iran, Melanesia).

5. RAS-RAS KHUSUS

  1. Tidak dapat diklasifikasikan ke dalam keempat ras pokok
  2. Bushman ( Di daerah gurun Kalahari di Afrika Selatan).
  3. Veddoid (Di pedalaman Srilanka dan Sulawesi Selatan).
  4. Polynesian (Di Kepulauan Mikronesia dan Polinesia).
  5. Ainu (Di Pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara).   

 ORGAN MANUSIA 

https://www.google.com=canstockphoto.com

Manusia merupakan makhluk hidup yang juga sering mengelompok sama halnya dengan para binatang. 

Namun seperti yang dipaparkan Prof. Koentjaraningrat, perbedaannya terletak pada sistem pembagian kerja, aktifitas kerja sama, dan berkomunikasi yang tidak bersifat naluri. 

Hal ini dikarenakan manusia memiliki akal dalam mengembangkan suatu kemampuan. 

Meskipun demikian otak manusia telah berevolusi, otak manusia telah dikembangkan oleh bahasa dan juga memajukan bahasa. 

Bahasa membuat manusia dapat belajar secara kongkret peristiwa yang terkait dengan keadaan secara abstrak tanpa mendalami sendiri peristiwa tersebut. 

Dengan demikian bahasa manusia itu mengabstraksikan dan menyimpan tiap pengetahuan baru ke dalam kata-kata baru, yang makin lama makin menjadi banyak jumlahnya. 

Artinya, manusia mengembangkan bahasa dengan akalnya. Dengan bahasa pula, pengetahuan manusia selama berpuluh-puluh ribu generasi sejak zaman makhluk hidup Australopitcheus berkeliaran di daerah sabana di Arika selatan. 

Kemampuan otak manusia untuk membentuk gagasan dari konsep-konsep dalam akalnya menyebabkan manusia dapat membayangkan dirinya sendiri sebagai suatu identitas tersendiri, lepas dari lingkungan, alam dan sekelilingnya. 

Kemampuan ini merupakan dasar dari kesadaran identitas diri dan kesadaran kepribadian diri sendiri. 

Sudah tentu banyak binatang yang mempunyai identitas diri, namun kesadaran itu tidak setajam yang dimiliki manusia, karena manusia juga mempunyai kemampuan untuk membayangkan dengan akalnya peristiwa yang mungkin dapat terjadi terhadapnya, baik yang bahagia dan menyenangkan, maupun yang sengsara dan menakutkan. 

Rasa takut terbesar adalah rasa takut terhadap peristiwa yang ia sadari pasti akan terjadi, ialah tibanya maut. 

Kesadaran akan tibanya maut inilah yang merupakan salah satu sebab timbulnya suatu unsur penting dalam kehidupan manusia, yaitu Religi

Kehidupan manusia juga berbeda dengan kehidupan organisme binatang, dengan adanya penyambung hasrat alamiahnya untuk keindahan, akal manusia mengadakan suatu reaksi yang sadar dan kreatif. 

Sehingga menjadi suatu unsur  khas dalam hidupnya, yaitu Kesenian

Walaupun manusia kalah dengan banyak jenis binatang, jenis berkelompok lainnya namun kemampuan otaknya, yang kita sebut dengan akal budi telah menyebabkan berkembangnya sistem-sistem yang dapat membantu dan  menyambung keterbatasan kemampuan organisme itu.

  • Keseluruhan dari sistem-sistem tersebut, yaitu:
  1. Sistem vocal atau bahasa,
  2. Sistem pengetahuan,
  3. Organisasi sosial,
  4. Sistem peralatan hidup dan tekhnologi,
  5. Sistem mata pencaharian,
  6. Sistem religi,
  7. Kesenian. 

Sistem-sistem tersebut diatas merupakan kebudayaan. Kebudayaan manusia tidak terkandung dalam kapasitas organismenya, artinya tidak tertentukan dalam sistem gennya, berbeda dengan kemampuan organisme binatang. 

Manusia harus mempelajari kebudayaannya sejak ia lahir, selama seluruh jangka hidupnya, hingga saatnya mati, semua dengan jerih payah. 

Dengan kebudayaannya manusia dapat menjadi mahluk yang paling berkuasa dan berkembang biak paling luas di muka bumi ini.

  • Perbedaan Organ Manusia dan Organ Binatang adalah:
Organ tubuh manusia secara fisik lebih lemah dibanding organ hewan pada ukuran yang sama.
  1. Manusia memiliki Otak yang sudah berevolusi jauh dibanding mahluk lainnya.
  2. Otak manusia mengandung kemampuan akal, dimana dengan bantuan Bahasa dapat meningkatkan kemampuannya dengan membentuk konsep dan gagasan baru, yang semakin lama semakin tajam, sehingga dapat menghasilkan tindakan yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia.
  3. Gagasan dan konsep tersebut dapat dikomunikasikan dengan lambang vocal yang kemudian disebut Bahasa, dengan fatkor rasa takut terhadap maup menjadi unsur penting bagi terbentuknya religi.
  4. Gagasan dan konsep Bahasa ini kemudian menjadi sistem pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
  5. Keseluruhan sistem ini yaitu sistem vocal (Bahasa), sistem pengetahuan, sistem organisasi social, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian secara keselurhan membentuk kebudayaan manusia.
  • Susunan organ manusia secara biologis mencakup beberapa sistem:
  1. Sistem Saraf
  2. Sistem Rangka
  3. Sistem Otot
  4. Sistem Peredaran Darah
  5. Sistem Pernapasan
  6. Sistem Pencernaan
  7. Sistem Endokrin
  8. Sistem Reproduksi
  9. Sistem Ekskretoris
  10. Sistem Integumen
  11. Sistem Kekebalan Tubuh
 
Daftar Pustaka: 
 
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi 2009, Rineka Cipta, Jakarta.

Asas-Asas: Ilmu Antropologi

https://www.google.com/perkembangan-antropologi-yang-perlu-diketahui

Ilmu antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan lingkungannya. 

Untuk mempelajari tentang manusia dan lingkungannya, maka dalam kajian antropologi di bahas mengenai asas-asas dan ruang lingkup antopologi. 

Asas-asas dalam pengertian antropologi merupakan bagian-bagian dalam antropologi, sedangkan ruang lingkup antropologi adalah ilmu antropologi yang membahas keadaan sekitar manusia, diantaranya kebudayaan, kehidupan masa lalu dan masa sekarang.

A. Fase-Fase Perkembangan Ilmu Antropologi  

1. Fase pertama (sebelum 1800)

Kedatangan bangsa eropa ke benua Afrika, Asia, dan Amerika selama 4 abad membawa pengaruh besar pada ke tiga benua tersebut. 

Mulai terkumpul tulisan buah tangan para musafir, pelaut, penyiar agama nasrani, penerjemah kitab injil. 

Dalam buku tersebut memaparkan pengetahuan tentang adat istiadat, susunan masyarakat, dan ciri-ciri fisik dari suku-suku bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika.

2. Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19)

Proses integrasi (pembauran) masyarakat dan kebudayaan manusia Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika, manusia berevolusi (perubahan sifat organisme) dengan sangat lambat, masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi kala itu yang hidup di Erapa Barat. 

Sedangkan diluar Eropa disebut primitive, dianggap contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah. Karena beragamnya kebudayaan diseluruh dunia kedalam tingkat-tingkat evolusi tertentu, maka pada tahun 1860 timbullah ilmu antropologi.

3. Fase ke tiga (permulaan abad ke-20)

Sebagian negara penjajah di Eropa berhasil memantapkan kekuasaannya di daerah-daerah jajahan di luar Eropa, maka ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah-daerah di luar Eropa menjadi sangat penting.

4. Fase ke empat (sesudah kira-kira 1930)

Ilmu antropologi mengalami perkembangannya yang paling luas, bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. 

Adapun warisan dari fase-fase pertama, kedua, ketiga tentu tidak dibuang demikian saja, tetapi dipakai sebagai landasan baru perkembangan ilmu antropologi.  

B. Antropologi Masa Kini 

 

https://www.google.comperkembangan-antropologi-masa-kini

1. Perbedaan-Perbedaan Di Berbagai Pusat Ilmiah

Di Indonesia, baru dikembangkan ilmu antropologi khas Indonesia. Indonesia belum terikat oleh suatu tradisi sehingga bebas menentukan dasar-dasar dari antropologi Indonesia, memilih dan mengombinasikan unsur-unsur dari aliran antropologi yang paling cocok atau yang dapat diselaraskan dengan masalah kemasyarakatan di Indonesia.

2. Perbedaan-Perbedaan Istilah Antropologi 

  1. Ethnography berarti pelukisan tentang bangsa-bangsa. 
  2. Ethnology berarti ilmu bangsa-bangsa. Di Amerika dan Inggris masih digunakan istilah tersebut. 
  3. Volkerkunde berarti ilmu bangsa-bangsa. Istilah ini digunakan di Eropa Tengah sampai sekarang. 
  4. Kulturkunde berarti ilmu kebudayaan. 
  5. Anthtropology berarti ilmu tentang manusia. Dahulu istilah itu digunakan dalam arti lain yaitu ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia. 
  6. Cultural Anthropology mempelajari manusia dari sudut fisiknya istilah ini di pakai di Amerika dan negara lain. 

C. Ilmu-Ilmu Bagian Antropologi 

  1. Paleo Antropologi adalah ilmu bagian yang meneliti asal usul manusia dengan mempergunakan sisa-sisa tubuh yang telah membatu (fosil-fosil manusia) di dalam tanah yang didapat oleh peneliti dengan berbagai metode penggalian. 
  2. Antropologi fisik adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. 
  3. Etnolinguistik adalah suatu ilmu bagian yang meneliti daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari berbagai suku bangsa yang tersebar di dunia. 
  4. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal huruf. 
  5. Etnologi adalah ilmu bagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai asas-asas manusia, dengan mempelajari kebudayaan manusia dari berbagai suku bangsa sekarang ini.

D. Hubungan Antropologi Sosial dan Budaya


https://www.google.com-definisi-kebudayaan-menurut-ilmu-antropologi-dan-para-ahli.

Hubungan antara antropologi sosial dengan budaya yaitu antara manusia dengan budaya tidak dapat dipisahkan. 

Manusia di dalam lingkungan sosialnya akan tercipta budaya yang mereka lakukan. Karena budaya tercipta dari interaksi antara manusia dengan manusia lainnya.

E. Hubungan Antropologi dan Ilmu-Ilmu Lain

  1. Ilmu Geologi
  2. Ilmu Paleontologi
  3. Ilmu Anatomo
  4. Ilmu Kesehatan Masyarakat  
  5. Ilmu Psikiantri
  6. Ilmu Linguistik
  7. Ilmu Arkeologi
  8. Ilmu Sejarah
  9. Ilmu Geografi
  10. Ilmu Ekonomi
  11. Hukum Adat
  12. Ilmu Administrasi
  13. Ilmu Politik 
 
Daftar Pustaka: 
 
Prof. Dr. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi 2009, Rineka Cipta, Jakarta.

Sabtu, 02 April 2022

Beberapa Istilah: Ilmu Antropologi

 https://www.google.com=pengertian-antropologi-dan-jenis-antropologi%

1. Kebudayaan 

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang tumbuh. 

Menurut Koentjaraningrat (1923-1999), kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide atau gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang diperoleh dengan cara belajar. 

Kebudayaan mengacu pada kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Maka kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk kepada bagian-bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian (D’Andrade, 1995:1999). 

Bentuk kajian yang ada dalam antropologi kebudayaan adalah musik daerah, batik, tarian, candi, seni sastra. 

  • Contoh Antopologi Kebudayaan  

a. Sistem Pengetahuan 

Pengetahuan adalah suatu kemampuan tertentu yang dimiliki manusia dan di dapatkan dari lingkungan terdekatnya untuk menciptakan, mempertahankan dan mengembangkan kehidupan agar lebih baik dan bagus dengan berbagai tahapan proses belajar yang dilaluinya. 

b. Pandangan hidup

Pandangan hidup adalah suatu pedoman dan prinsip hidup seseorang seringkali digunakan sebagai pegangan hidup seorang individu, kelompok bahkan suatu bangsa. 

Selain itu, pandangan hidup dalam diri manusia juga berpengaruh pada sisi sikap, persepsi, dan pola perilaku seseorang. 

Salah satu contoh pandangan hidup yang masyarakat Indonesia yakini yaitu pancasila. 

Dimana nilai-nilai pancasila disini dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. 

c. Kepercayaan 

Kepercayaan adalah suatu pandangan hidup yang melekat dengan begitu kuat dalam diri manusia dan telah diyakini dengan sepenuh hatinya. Sehingga manusia akan melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang dipercayainya. 

d. Persepsi

Persepsi adalah pandangan seseorang mengenai berbagai hal yang ada dalam kehidupannya. Sebagai informasi bahwa persepsi seringkali karena adanya perbedaan-perbedaan diantara manusia satu dengan lainnya. 

Sehingga dari perbedaan persepsi itulah muncul suatu perdebatan. Selain itu adanya perbedaan sudut pandang yang dimiliki oleh setiap orang juga dipengaruhi berbagai faktor mulai dari faktor latar belakang kehidupan, pendidikan dan lain sebagainya. 

2. Evolusi

Menurut Charles Robert Darwin dalam bukunya yang terkenal Origin of Species (1859), evolusi merupakan cabang biologi yang di dalamnya mempelajari tentang asal usul dan sejarah makhluk hidup serta hubungan genetik antara makhluk hidup satu dengan lainnya. 

Evolusi diartikan sebagai perubahan yang dialami secara perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. 

  • Teori evolusi yang ada terdiri dari tiga proses, yaitu:

a. Seleksi alam adalah seleksi terhadap seluruh anggota masyarakat sehingga anggota yang kuat dan sehat yang dapat bertahan hidup.(Teori Darwin :"survival of thefittest"). 

b. Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen/kromosom) yang dapat diwariskan secara genetik pada keturunannya. 

c. Seleksi buatan adalah seleksi yang dilakukan manusia. Dilakukan dalam rangka untuk memperolah keturunan yang lebih baik, misalnya pada hewan ternak dan tanaman budidaya. 

Dalam perkembangan antropologi. Dari lahirnya antropologi hingga saat ini. Terjadi perubahan evolusi secara bertahap. Hal yang sering terjadi pada ini melalui proses mutasi. Dimana kebudayaan dapat diwariskan secara materi genetik kepada keturunannya. 

Akan tetapi, dapat terjadi kemungkinan untuk mengalami perubahan. Perubahan makna maupun cara penggunaannya. 

Misalnya saja tentang budaya “Reog Ponorogo”. Jika dulu adalah sebagai penampilan kebudayaan yang sangat sakral. 

Akan tetapi seiring perkembangan jaman menjadi penampilan yang menghibur. Walaupun tidak mengubah hal pada ciri khas itu. Tetapi mengalami perubahan penggunaaan. 

3. Culture Area (Daerah Budaya) 

Suatu daerah budaya merupakan daerah geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya, dan kompleksitas lain yang dimilikinya (Banks, 1977:274). 

Menurut definisi tersebut, suatu daerah kebudayaan pada mulanya berkaitan dengan pertumbuhan kebudayaan yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur lama kearah pinggir, sekeliling daerah pusat pertumbuhan tersebut. 

Oleh karena itu, jika peneliti ingin memperoleh unsur-unsur budaya kuno maka tempat untuk mendapatkannya adalah daerah-daerah pinggir yang dikenal dengan marginal survival, suatu istilah yang mulai diperkenalkan oleh Franz Boas (Koentjaraningrat, 1987:26). 

Konsep marginal survival ini dikembangkan lebih lanjut oleh Clark Wissler yang terkenal dengan bukunya The American Indian. 

4. Enkulturasi 

Menurut Soekanto, (1993:167) enkulturasi atau pembudayaan merupakan proses seorang individu dalam mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. 

Hal paling mendasar yang menjadi contoh enkullturasi adalah bahasa. 

Seseorang akan tumbuh dengan bahasa yang sesuai dengan tempatnya tinggal (bahasa ibu), walau diajari bahasa lain bahasa ibu akan menjadi bahasa paling fasih mereka. 

Misalnya, seseorang yang tumbuh di Indonesia akan berbahasa Indonesia. Jika tumbuh dalam lingkungan suku tertentu, biasanya mereka juga fasih berbahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Minahasa, Tolaki dan lainnya. 

Contoh lainnya adalah cara makan. Orang yang tinggal di Indonesia akan terbiasa makan dengan tangan ataupun sendok, namun orang yang tinggal di Jepang akan lebih banyak menggunakan sumpit. 

5. Difusi 

Menurut Soekanto, (1993:50), difusi merupakan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara meluas, dibawa oleh sekelompok manusia yang melakukan migrasi ke suatu tempat, sehingga melewati batas tempat dimana kebudayaan itu muncul. 

Menurut Everett M. Rogers dalam karyanya Diffusion of Innovation (1983), cepat tidaknya suatu proses difusi sangat erat hubungannya dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu: 

  1. Sifat inovasi, 
  2. Komunikasi dengan saluran tertentu, 
  3. Waktu yang tersedia), 
  4. Sistem sosial warga masyarakat. 

Beberapa Contoh proses terjadinya difusi kebudayaan, di antaranya sebagai berikut: 

  1. Unsur-unsur budaya timur dan barat yang masuk ke Indonesia dilakukan dengan teknik meniru. Misalnya, penyebaran agama Islam melalui media perdagangan, berikut cara berdagang yang jujur, dan model pakaian yang digunakan, lambat laun ditiru oleh masyarakat. 
  2. Cara berpakaian para pejabat kolonial Belanda ditiru oleh penguasa pribumi. 
  3. Cara orang Minangkabau membuka warung nasi dan cara orang Jawa membuka warung tegal. 
  4. Cara makan yang dilakukan orang Eropa dengan menggunakan sendok ditiru oleh orang Indonesia. 

6. Akulturasi

Akulturasi merupakan proses ataupun saling mempengaruhi dari satu kebudayaan asing yang berbeda sifatnya. 

Sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diakomodasikan dan diintegrasikan ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadiannya sendiri (Koenjtaraningrat, 1990:91). 

Di Indonesia, proses akultuasi dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Akulturasi ini terjadi di berbagai bidang, bahkan hingga dalam tradisi kuliner, seni, dan bangunan. 

Berikut Contoh akulturasi di masyarakat Indonesia yang bisa disaksikan sampai sekarang. 

  1. Akulturasi di tradisi Kuliner Kue Lapis legit, Semur, dan Perkedel merupakan akulturasi budaya Belanda. Soto, Lumpia, Lontong Cap Go Meh, Bakso, dan Mi Ayam merupakan akulturasi budaya di Indonesia. Tradisi Tionghoa Pie Susu merupakan akulturasi budaya Hongkong, Portugis dan Indonesia. 
  2. Akulturasi di Tradisi Bangunan Masjid Cheng Ho, yang merupakan akulturasi budaya Tionghoa. Islam Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan bangunan yang dibangun dengan pengaruh kebudayaan Cina, Arab, Eropa serta Hindu dan Jawa. Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Eropa. Masjid Langgar Tinggi di Pekojan, Jakarta Barat menggabungkan arsitektur Tionghoa dan Jawa. 
  3. Akulturasi di Tradisi Seni Kereta Singo Barong merupakan akulturasi budaya Tionghoa, Budha, Hindu serta Islam. Gambang Semarang yang telah ada sejak tahun 1930 merupakan akulturasi budaya lokal Semarang. Tionghoa Cekepung, sebuah pementasan teater tradisional di Bali yang menjadi akulturasi budaya Jawa, Bali, dan Lombok Batik lasem menjadi bentuk akulturasi budaya tionghoa dan jawa. 

7. Etnosentrisme 

Menurut Fred E. Jandt dalam karyanya Intercultural Communication: Anintroduction (1998:52) Etnosentrisme merupakan suatu sikap, persepsi atau pandangan yang dimiliki oleh masing-masing individu yang menganggap bahwa kebudayaan yang dimilikinya lebih baik dari budaya lainnya atau membanggakan budayanya sendiri dan menganggap rendah budaya lain. 

Etnosentrisme berarti penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Pemahaman seperti ini dapat menghambat komunikasi antar-budaya. 

Berikut beberapa contoh sikap etnosentris, yaitu: 

  1. Adanya kebudayaan Carok yang berasal dari Madura. 
  2. Adanya konflik antara suku Madura dan Dayak. 
  3. Tindakan bullying jika ada teman yang berasal dari luar pulau Jawa. 
  4. Kebiasaan memakai pakaian adat di beberapa daerah di Indonesia. 
  5. Terjadinya perang antara suku Asmat dan suku Dani. 

8. Tradisi 

Menurut Soekanto (1993:520), tradisi merupakan suatu pola perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat istiadat, yakni: 

Kebiasaan-kebiasaan yang bersifat magis-religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan yang saling berkaitan. 

Kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap. Tradisi merupakan pola perilaku yang dilakukan berulang kali oleh sekelompok orang. Lama kelamaan pola perilaku tersebut, menjadi sebuah tradisi. 

  • Berikut ini contoh-contoh tradisi yang berkembang di Indonesia, antara lain: 

a. Kasada (Jawa Timur): Ritual Persembahan Panen, upacara Kasada selalu diadakan pada tanggal 14 Kasada (menurut kalender Jawa kuno) di Gunung Bromo. 

Tujuan dari Kasada adalah untuk memperingati pengorbanan Raden Kusuma (putra Jaka Seger dan Lara Anteng, orang yang dihormati oleh penduduk setempat). 

b. Rambu Solo (Tana Toraja, Sulawesi Selatan): Upacara Pemakaman Toraja. Rambu Solo adalah upacara pemakaman tradisional yang diadakan oleh masyarakat Toraja. 

Tujuan dari upacara tersebut adalah untuk menyapa roh orang yang telah meninggal. 

Mereka percaya bahwa roh akan kembali ke surge bersama nenek moyang mereka. Ritual dimulai dengan penyembelihan hewan (biasanya kerbau dan babi). 

Status sosial tergantung pada seberapa banyak hewan yang dikurbankan. Hal-hal yang harus kita lihat selama upacara adalah adu kerbau, nyanyian, dan tarian baris. 

c. Ngurek (Bali): Ritual Melukai Badan. Ngurek adalah tradisi Bali ekstrim yang diadakan untuk tujuan keagamaan. 

Para jamaah akan melukai diri sendiri dengan menusuk tubuh mereka dengan pisau tradisional yang disebut “keris”. 

Selama ritual ini, peserta dianggap kerasukan. Tradisi Ngurek atau Nguying bertujuan untuk mengabdi pada “Sang Hyang Widi Wasa”, sang dewa. Tradisi unik ini bisa Anda saksikan hampir di seluruh desa di Bali.

d. Pasola (Sumba): Pemeragaan Perang Dengan Kuda. Pasola merupakan salah satu upacara adat yang luar biasa masyarakat Sumba di Nusa Tenggara Timur. 

Itu selalu diadakan setiap tahun dari Februari hingga Maret. Tujuan dari tradisi ini adalah mendapatkan berkah Tuhan untuk panen yang lebih baik. 

Pasola secara harfiah berarti “permainan perang”. Itu terjadi antara dua kelompok pria yang mengenakan kostum tradisional, memegang tombak kayu tumpul sambil menunggang kuda mereka. Kita bisa menikmati ritual ini bersama keramaian di ruang publik terbuka. 

e. Fahombo Batu (Pulau Nias): Melompati Batu-Batu Besar. Fahombo Batu (lompat batu) adalah ciri budaya Pulau Nias. 

Itu dilakukan oleh seorang pria muda yang berpakaian bagus dengan kostum tradisional. Dia harus melompati tumpukan batu-batu besar setinggi 2 meter (6,5 kaki). 

9. Ras dan Etnik 

Menurut Oliver (1964:153) ras merupakan sekelompok orang yang memiliki sejumlah ciri-ciri biologis (fisik) tertentu, suatu populasi yang memiliki kesamaan dalam sejumlah unsur biologis (fisik) atau ciri-ciri khas disebabkan oleh faktor keturunan. 

Ciri fisik yang mendasari penggolongan tersebut antara lain warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, bentuk tubuh dan lain sebagainya. 

Menurut Marger (1985:7) etnik merupakan kelompok dalam masyarakat yang lebih besar menampilkan serangkaian ciri-ciri budaya yang unik. 

Etnis atau suku merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan, terutama bahasa. 

Dengan kata lain etnisadalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkanoleh kesatuan bahasa (Koentjaraningrat, 2007). 

Contohnya etnis/suku Tionghoa, suku Jawa, suku Bugis, suku Batak, suku Sunda, suku Dayak, suku Asmat, dll.

10. Stereotip 

Menurut Fred E. Jandt (1998:70-74), dalam bukunya yang berjudul Intercultural Communication: An Introduction bahwa stereotip dan prejudice merupakan salah satu penghambat terjadinya komunikasi antarbudaya yang bermakna di tengah budaya yang berbeda, disamping faktor-faktor kecemasan dan etnosentrisme. 

Stereotip merupakan persepsi terhadap seseorang berdasarkan kelompok mana orang itu dikategorikan atau berdasarkan keyakinan tertentu seperti Cina Licik, Jawa Koek, Padang Bengkok, Bapak si tukang copet, dsb (Supardan, 2004:63-70). 

Contoh lainnya, stereotip mengatakan bahwa dalam berbisnis etnis Tionghua sering bermain curang dan suka menyuap pihak penguasa untuk mendapatkan konsesi ekonomi sehingga membuat mereka cepat sukses, nyatanya tidak semua etnis Tionghua begitu. 

11. Kekerabatan 

Menurut antropolog Robin Fox (1969) dalam karyanya Kinship and Marriage, merupakan konsep inti dalam antropologi. 

Konsep kekerabatan tersebut merujuk pada tipologi klasifikasi kerabat (kin) menurut penduduk tertentu berdasarkan aturan-aturan keturunan (descent) dan aturan-aturan perkawinan. 

Menurut Malinowski (1929), keluarga atau kekerabatan merupakan suatu institusi domestik yang bergantung pada afeksi. Selain itu, konsep kekerabatan juga ingin menegaskan bahwa tujuan dari keluarga adalah membesarkan anak. 

  • Di Indonesia hubungan kekerabatan dibagi menjadi tiga, yaitu: 

a. Sistem kekerabatan parental/Bilatera

Sistem ini menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu. Anak menghubungkan diri dengan kedua orangtuanya dan juga kerabat ayah-ibunya secara bilateral. 

Contoh suku yang menggunakan sistem ini adalah: Jawa, Sunda, Madura, dan Bugis. 

b. Sistem kekerabatan Patrilineal

Sistem ini menarik garis kekerabatan dari pihak ayah. Sistem ini menghubungkan anak dengan kerabat ayah berdasarkan garis keturunan laki-laki secara uniteral. 

Dalam masyarakat patrilineal keturunan dari pihak bapak dinilai memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat. 

Contoh suku yang menggunakan sistem ini adalah: Batak, Bali, Ambon, dan Asmat. 

c. Sistem kekerabatan Matrilineal

Sistem ini menarik garis kekerabatan dari pihak ibu. Sistem ini menghubungkan anak dengan kerabat ibu berdasarkan garis keturunan perempuan secara uniteral. 

Dalam masyarakat matrilineal, keturunan garis ibu sangat penting, sehingga menimbulkan hubungan kekeluargaan yang lebih rapat dan meresap diantara warganya yang seketurunan garis ibu. 

Menimbulkan konsekuensi yang lebih besar daripada garis keturunan bapak, misalnya dalam hal pembagian warisan. Contoh suku yang menggunakan sistem ini adalah suku Minangkabau. 

12. Magis 

Menurut seorang pendiri antropologi di Inggris E.B. Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture (1871) merupakan ilmu pseudo dan salah satu khayalan paling merusak yang pernah menggerogoti umat manusia. 

Kemudian, menurut antropolog J.G. Frazer, dalam karyanya yang berjudul Golden Bough (1980), bahwa magis merupakan penerapan yang salah dalam dunia materiil dari hukum pikiran dengan maksud untuk mendukung sistem palsu dari hukum alam. Dunia materiil ini mendukung adanya pemikiran terkait dunia yang semu. 

13. Tabu 

Menurut Rodman (1988:279), tabu atau pantangan merupakan suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat. Dalam hal ini, contoh tabu adalah bersentuhan dengan kepala suku. 

14. Perkawinan 

Antropolog memandang perkawinan sebagai pelebaran menyamping tali ikatan antara dua kelompok himpunan yang tidak bersaudara atau pengukuhan keanggotaan di dalam satu kelompok endogen bersama. 

Secara umum, konsep perkawinan mengacu pada konsep formal pemaduan hubungan 2 individu yang berbeda jenis dan dilakukan secara seremonial simbolis, serta semakin dikaraterisasikan oleh adanya kesederajatan, kerukunan, dan kebersamaan dalam hidup berpasangan. 

Di sebagian besar tradisi, perkawinan juga dimaknai sebagai proses institusi sosial dan wahana untuk mengembangkan keturunan (Mansfielf dan Collard, 1988). 

  • Jenis-jenis perkawinan menurut ilmu Antropologi, yaitu: 

a. Sistem Endogami 

Merupakan sistem perkawinan yang mewajibkan dengan anggota kelompok. Sistem Endogami berarti perkawinan dari suku dan ras yang sama. 

Menurut Van Vollenhoven, hanya ada satu daerah yang secara praktis mengenal sistem endogami ini, yaitu daerah Toraja. 

b. Sistem Eksogami 

Merupakan sistem perkawinan yang melarang dengan anggota kelompok. Sistem Eksogami berarti perkawinan dari suku dan ras yang berbeda. 

Contohnya adalah larangan menikah dengan kelompok atau klan yang sama. Eksogami memiliki dua lingkupan sebagai berikut: Heterogami adalah perkawinan antar kelas sosial yang berbeda, seperti pernikahan anak bangsawan dengan anak petani. 

Homogami adalah perkawinan antara kelas golongan sosial yang sama, seperti pernikahan anak saudagar dengan anak saudagar. 

c. Sistem Eleutherogami 

Merupakan sistem pernikahan yang tidak memiliki larangan atau keharusan dalam anggota kelompok tertentu. 

Larangan dalam Sistem Eleutherogami yaitu berhubungan dengan ikatan nasab (keturunan), seperti kawin dengan ibu, nenek, anak kandung, dan saudara dari bapak atau ibu. 

Dilarang juga dalam Sistem Eleutherogami, pernikahan dengan musyahrah (per-iparan), seperti kawin dengan ibu tiri, mertua, menantu, anak tiri. 


Daftar Pustaka:

Prof. Dr. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi 2009, Rineka Cipta, Jakarta.

Selasa, 29 Maret 2022

Pengertian dan Ruang Lingkup: Ilmu Antropologi

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum 

A. PENGERTIAN ANTROPOLOGI

Secara etimologi atau kebahasaan, Antropologi berasal dari bahasa Yunani, asal kata anthropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu. 

Maka antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik, masyarakat, dan kebudayaannya. 

Sedangkan definisi resminya, mengutip laman FIB UGM, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam seluk beluk, unsur-unsur, dan kebudayaan yang dihasilkan di kehidupan manusia. 

Para ahli Antropologi (antropolog) mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya untuk memperoleh pengertian atau pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia (Haviland, 1999:7 ; Koentjaraningrat, 1987:1-2). 

Profesor I Gede A. B. Wiranata, dalam buku Antropologi Budaya (2011), menjelaskan Antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai makhluk masyarakat. 

 

Maka itu, perhatian Antropologi ditujukan pada sifat khusus badani, cara produksi, tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup satu masyarakat berbeda dari yang lainnya (Hlm. 3-4). 

 

Adapun yang membedakan Antropologi dengan disiplin ilmu lain yang juga membahas tentang manusia, adalah fokus kajiannya. 

 

Antropologi, secara khusus, mengkaji manusia dari sudut keanekawarnaannya, baik dari segi warna fisik (tubuh), perilaku, maupun cara berpikirnya. 

 

Masih mengutip penjelasan Wiranata di bukunya, Antropologi memandang persoalan manusia sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial secara holistik dan integral (menyeluruh), alias tidak secara terpisah. 

 

https://www.google.com.=gambar+mengenai+antropologi+hukum 

 

Antropologi lahir dari ketertarikan orang Eropa pada ciri fisik, adat istiadat dan budaya etnis lain yang berbeda-beda dengan masyarakat Eropa. 


Sehingga pada awalnya kajian Antropologi lebih fokus pada penduduk sebagai masyarakat tunggal, artinya kelompok masyarakat yang hidup di lingkungan yang sama, tetapi memiliki ciri khas yang berbeda-beda. 

 

B. RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI 

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum  

  • Secara makro, Antropologi dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni:

1. Antropologi fisik 

 

Antropologi fisik mempelajari tentang manusia (Paleoantropologi) sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya dan menyelidiki variasi biologisnya dalam berbagai jenis (spesies) atau mempelajari terbentuknya warna kulit melalui ciri-ciri fisik (Samatologi).

 

2. Antropologi budaya 

 

Antropologi budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya dalam masyarakat. 

 

Antropologi budaya juga merupakan studi tentang praktik-praktik social, bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa dimana makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan masyarakat manusia. 

  • Menurut Haviland cabang antropolgi budaya ini terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Arkeologi 

 

Arkeologi merupakan cabang antropologi kebudayaan yang mempelajari benda-benda peninggalan lama dengan maksud untuk menggambarkan serta menerangkan perilaku manusia karena dalam peninggalan-peninggalan lama itulah terpantul ekspresi kebudayaan.

 

2. Antropologi linguistik 

 

Ernest Cassirer mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang paling mahir dalam menggunakan simbol–simbol, sehingga manusia disebut homo symbolicum karena itulah manusia dapat berbicara, berbahasa, dan melakukan gerakan-gerakan lainnya yang juga banyak dilakukan makhluk-makhluk lain yang serupa dengan manusia.

 

3. Etnologi 

 

Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan-kebudayaan zaman sekarang, telahnya pun terpusat pada perilaku manusianya, sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami, serta didiskusikan dengan pendukung kebudayaannya. 

 

Dengan demikian etnologi ini mirip dengan arkeologi, bedanya dalam etnologi tentang kekinian yang dialami dalam kehidupan sekarang, sedangkan arkeologi tentang kemampuan yang klasik. Antropologi pada hakikatnya mendokumentasikan kondisi manusia pada masa lampau dan masa kini.

  • Bidang-bidang khusus secara sistematis dalam antropologi lainnya, yaitu:

1. Antropologi Ekonomi 

 

Bidang ini merupakan cara manusia dalam mempertahankan dan mengekspresikan diri melalui penggunaan barang dan jasa material. 

 

Dengan demikan ruang lingkup antropologi ekonomi tersebut mencakup riset tentang teknologi. 

 

2. Antopologi Medis 

 

Antropologi medis merupakan subdisiplin yang sekarang paling populer di Amerika serikat, bahkan tumbuh pesat diman-mana. 


Antropologi medis ini banyak membahas hubungan antara penyakit dan kebudayaan yang tampak mempengaruhi evolusi manusia, terutama berdasarkan hasil-hasil penemuan paleopatologi.

 

3. Antropologi Psikologi 

 

Bidang ini merupakan wilayah antropologi yang mengkaji tentang hubungan antara individu dengan makna dan nilai, dengan kebiasaan sosial dari sistem budaya yang ada. 


Adapun ruang lingkup antropologi psikologi tersebut sangat luas dan menggunakan berbagai pendekatan pada masalah kemunculan dalam interaksi, dalam pemikiran, nilai, dan kebiasaaan sosial.

 

4. Antropologi Social  

 

Bidang ini mulai dikembangkan oleh James G.F. di Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dalam kajiannya, antropologi sosial mendiskripsikan proyek evolusionis yang bertujuan untuk merekonstruksi masyarakat primitif asli dan mencatat perkembangannya melalui berbagai tingkat peradaban. 

 

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum  

C. TUJUAN dan KEGUNAAN

Tujuan  

  1. Tujuan Akademis, Antropologi ingin mencapai pengertian tentang makhluk manusia, pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisik, masyarakat, serta budaya. 
  2. Tujuan Praktis, Antropologi ingin mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat, suku bangsa guna membangun masyarakat itu sendiri.

 Kegunaan

  1. Melihat dengan jelas tentang manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok masyarakat
  2. Mampu mengkaji kedudukan menusia dalam masyarakat dan dapat melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya.
  3. Memahami norma-norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu.
  4. Lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala sisial masyarakat yang makin kompleks.
  5. Menyusun etnografi-etnografi yang memungkinkan penciptaan teori tentang asal-usul kepercayaan, keluarga, perkawinan, perilaku bernegara, dan sebagainya. 

 

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum

 

D. MENURUT PARA AHLI 

 

1. David Hunter 

 

Dalam The Study of Anthropology (1976) menjelaskan Antropologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang lahir dari rasa ingin tahu yang tak terbatas dari umat manusia.

 

2. Rifhi Siddiq 

 

Antropologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari dan mendalami semua aspek yang terdapat pada manusia yang terdiri atas berbagai macam konsepsi kebudayaan, ilmu pengetahuan, norma, seni, linguistik dan lambang, tradisi, teknologi, serta kelembagaan.

 

3. William A. Haviland 

 

Antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha untuk membuat generalisasi yang berguna tentang orang-orang dan perilaku mereka dan untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap dari keragaman manusia.

 

4. Koentjaraningrat 

 

Dalam Pengantar Ilmu Antropologi (2002), Antropologi merupakan studi tentang umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat dan budaya yang dihasilkan masyarakat. 

 

5. Tulian Darwin 

 

Antropologi merupakan ilmu yang berasal dari keinginan manusia untuk membuktikan asal mula dan perkembangan yang terjadi pada manusia dengan melakukan bermacam-macam penelitian mengenai monyet dan kera yang ada di seluruh penjuru dunia. 

 

E. PENERAPAN ANTROPOLOGI DALAM MASYARAKAT 

  • Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan Antropologi, yaitu: 

 

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum  


1. Identifikasi Kebutuhan Belajar Masyarakat 

 

Identifikasi kebutuhan masyarakat ini bersumber dari informasi masyarakat sekitar. Masyarakat tersebut terdiri dari tokoh masyarakat, baik secara formal maupun informal, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat kelas bawah. 

 

Hal ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data yang dijadikan bahan pengembangan kurikulum. 

  

2. Keterlibatan Partisipasi Masyarakat 

 

Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajar, maka masyarakat ikut serta dalam merancang kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana, menentukan nara sumber sebagai fasilitator, dan ikut menilai hasil belajar. 

 

3. Pemberian Pendidikan Kecakapan Hidup 

 

Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan dalam bentuk pemberian keterampilan dan kemampuan dasar pendukung fungsional, membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. 

 

F. DEFINISI KONSEP ANTROPOLOGI 

 

https://www.google.com=gambar+mengenai+antropologi+hukum  

1. Kebudayaan 

 

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang tumbuh. 


Kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide atau gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang diperoleh dengan cara belajar. 


Kebudayaan mengacu pada kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 


Maka kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk kepada bagian-bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian (D’Andrade, 1995:1999). 

 

2. Evolusi 

 

Menurut Charles Robert Darwin dalam bukunya yang terkenal Origin of Species (1859), evolusi merupakan cabang biologi yang di dalamnya mempelajari tentang asal usul dan sejarah makhluk hidup serta hubungan genetik antara makhluk hidup satu dengan lainnya. 


Evolusi diartikan sebagai perubahan yang dialami secara perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. 

 

3. Culture Area (Daerah Budaya) 

 

Suatu daerah budaya merupakan daerah geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya, dan kompleksitas lain yang dimilikinya (Banks, 1977:274). 


Menurut definisi tersebut, suatu daerah kebudayaan pada mulanya berkaitan dengan pertumbuhan kebudayaan yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur lama kearah pinggir, sekeliling daerah pusat pertumbuhan tersebut.

 

4. Enkulturasi 

 

Menurut Soekanto, (1993:167) enkulturasi atau pembudayaan merupakan proses seorang individu dalam mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

 

5. Difusi 


Menurut Soekanto, (1993:50), difusi merupakan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara meluas, dibawa oleh sekelompok manusia yang melakukan migrasi ke suatu tempat, sehingga melewati batas tempat dimana kebudayaan itu muncul. 


Menurut Everett M. Rogers dalam karyanya Diffusion of Innovation (1983), cepat tidaknya suatu proses difusi sangat erat hubungannya dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu: 

 

(a) sifat inovasi, (b) komunikasi dengan saluran tertentu, (c) waktu yang tersedia), (d) sistem sosial warga masyarakat.

 

6. Akulturasi 

 

Akulturasi merupakan proses ataupun saling mempengaruhi dari satu kebudayaan asing yang berbeda sifatnya sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diakomodasikan dan diintegrasikan ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadiannya sendiri (Koenjtaraningrat, 1990:91).  

 

7. Etnosentrisme 

 

Menurut Fred E. Jandt dalam karyanya Intercultural Communication: Anintroduction (1998:52) Etnosentrisme merupakan suatu sikap, persepsi atau pandangan yang dimiliki oleh masing-masing individu yang menganggap bahwa kebudayaan yang dimilikinya lebih baik dari budaya lainnya atau membanggakan budayanya sendiri dan menganggap rendah budaya lain. 


Etnosentrisme berarti penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Pemahaman seperti ini dapat menghambat komunikasi antar-budaya. 

 

8. Tradisi 

 

Menurut Soekanto (1993:520), tradisi merupakan suatu pola perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat istiadat, yakni: 


Kebiasaan-kebiasaan yang bersifat magis-religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan yang saling berkaitan. 


Kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap. Tradisi merupakan pola perilaku yang dilakukan berulang kali oleh sekelompok orang. Lama kelamaan pola perilaku tersebut, menjadi sebuah tradisi. 

 

9. Ras dan Etnik 

 

Menurut Oliver (1964:153) ras merupakan sekelompok orang yang memiliki sejumlah ciri-ciri biologis (fisik) tertentu, suatu populasi yang memiliki kesamaan dalam sejumlah unsur biologis (fisik) atau ciri-ciri khas disebabkan oleh faktor keturunan. 


Menurut Marger (1985:7) etnik merupakan kelompok dalam masyarakat yang lebih besar menampilkan serangkaian ciri-ciri budaya yang unik.

 

10. Stereotip 

 

Menurut Fred E. Jandt (1998:70-74), dalam bukunya yang berjudul Intercultural Communication: An Introduction bahwa stereotip dan prejudice merupakan salah satu penghambat terjadinya komunikasi antarbudaya yang bermakna di tengah budaya yang berbeda, disamping faktor-faktor kecemasan dan etnosentrisme. 


Stereotip merupakan persepsi terhadap seseorang berdasarkan kelompok mana orang itu dikategorikan atau berdasarkan keyakinan tertentu seperti Cina Licik, Jawa Koek, Padang Bengkok, Bapak si tukang copet, dsb (Supardan, 2004:63-70).

 

11. Kekerabatan 

 

Menurut antropolog Robin Fox (1969) dalam karyanya Kinship and Marriage, merupakan konsep inti dalam antropologi. Konsep kekerabatan tersebut merujuk pada tipologi klasifikasi kerabat (kin) menurut penduduk tertentu berdasarkan aturan-aturan keturunan (descent) dan aturan-aturan perkawinan. 


Menurut Malinowski (1929), keluarga atau kekerabatan merupakan suatu institusi domestik yang bergantung pada afeksi. Selain itu, konsep kekerabatan juga ingin menegaskan bahwa tujuan dari keluarga adalah membesarkan anak.

 

12. Magis 

 

Menurut seorang pendiri antropologi di Inggris E.B. Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture (1871) merupakan ilmu pseudo dan salah satu khayalan paling merusak yang pernah menggerogoti umat manusia. 


Kemudian, menurut antropolog J.G. Frazer, dalam karyanya yang berjudul Golden Bough (1980), bahwa magis merupakan penerapan yang salah dalam dunia materiil dari hukum pikiran dengan maksud untuk mendukung sistem palsu dari hukum alam. Dunia materiil ini mendukung adanya pemikiran terkait dunia yang semu.

 

13. Tabu 

 

Menurut Rodman (1988:279), tabu atau pantangan merupakan suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat. Dalam hal ini, contoh tabu adalah bersentuhan dengan kepala suku.

 

14. Perkawinan 

Antropolog memandang perkawinan sebagai pelebaran menyamping tali ikatan antara dua kelompok himpunan yang tidak bersaudara atau pengukuhan keanggotaan di dalam satu kelompok endogen bersama. 

Secara umum, konsep perkawinan mengacu pada konsep formal pemaduan hubungan 2 individu yang berbeda jenis dan dilakukan secara seremonial simbolis, serta semakin dikaraterisasikan oleh adanya kesederajatan, kerukunan, dan kebersamaan dalam hidup berpasangan. 

Di sebagian besar tradisi, perkawinan juga dimaknai sebagai proses institusi sosial dan wahana untuk mengembangkan keturunan (Mansfielf dan Collard, 1988). 

 

Daftar Pustaka: 

Prof. Dr. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi 2009, Rineka Cipta, Jakarta.

ANALISIS VISUAL DARI PERSPEKTIF ANTROPOLOGI

Analisa Visual merupakan metode bagaimana pikiran memproses informasi visual yang diterimanya dari mata berupa gambar, vidio, dan lain-lain....